Tampilkan postingan dengan label Amalan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Amalan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 22 September 2017

Imbalan 2 Gunung Emas, Amalan ini Mudah Dilakukan Tapi Sayangnya, Amalan ini Kerap Diabaikan


Kesibukan beraktivitas maupun ketiadaan pengetahuan kerap menjadi alasan orang meninggalkan amalan ini. Padahal, jika dijalankan genap dari awal sampai akhir, seseorang diganjar pahala setara dua gunung emas. 

Amalan yang dimaksud adalah mengurus jenazah. Prosesnya dijalankan muai dari memandikan, mengkhafani, menyolatkan, hingga mengantarkan ke kuburan dan memakamkan mayit tersebut. 

Hal ini telah disebutkan secara jelas dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Bukhari, Muslim, Abu Dawud, An Nasai, At Turmudzi, Ibnu Majah, Ath Thayalisiy, dan Ahmad, dari Abu Hurairah radliyallahu 'anhu, dari Rasulullah Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam,

Barangsiapa menyaksikan jenazah (dari rumahnya). (Di dalam satu riwayat), " Barangsiapa yang mengiringi jenazah seorang muslim dengan penuh keimanan dan mengharapkan pahala sampai disholatkan maka ia akan mendapatkan pahala satu qirath. Dan barangsiapa yang menyaksikannya sampai dikuburkan, (di dalam riwayat yang lain, sampai selesai semua kepengurusannya) maka ia mendapatkan pahala dua qirath" .

Ditanyakan, " Apakah pahala dua qirath itu?" . Beliau menjawab, " Yaitu sebesar dua gunung yang besar" . (Di dalam riwayat yang lain), " Setiap satu qirath ukurannya itu sebesar gunung Uhud" . 

Hadis tersebut disebutkan dalam kitab Al Ihkam fi Syarh Umdatul Ahkam, menjelaskan keutamaan mengurus jenazah.

Yang menjadi pertanyaan, bagaimana jika hanya melakukan sholat tanpa mengantarnya dari rumah duka menuju pemakaman?

Sebagian ulama berpendapat pahala satu qirath didapat bagi mereka yang menyolatkan hingga mengantarkan jenazah ke kuburan. Tetapi, menurut Ibn Hajar, mengantar dari rumah hanya sarana sehingga orang yang hanya ikut sholat jenazah tanpa mengantar dari awal tetap mendapatkan satu qirath.

Sebaliknya, jika seseorang hanya ikut mengantar tanpa ikut shalat ia tidak mendapatkan satu qirath; tetapi tetap berpeluang mendapatkan pahala kebaikan.

Selanjutnya pahala dua qirath hanya didapat oleh mereka yang ikut shalat jenazah lalu mengantarnya hingga dikubur.

Adapun yang hanya menyaksikan penguburan tanpa ikut shalat tidak mendapatkan satu qirath, apalagi dua qirath. Sebab  pahala dua qirath yang disebutkan oleh Rasul saw terkait dengan aktivitas menguburkan setelah menyalatkan; bukan hanya ikut menguburkan.  

Kesimpulannya, bahwa mengantar jenazah hingga ikut menyalatkan dan menguburkan adalah perbuatan yang mendatangkan pahala besar sehingga diibaratkan mendapatkan pahala sebesar dua gunung.

Karena itu seorang muslim hendaknya ikut serta menyalatkan dan menguburkan agar mendapatkan pahala yang sempurna.

Jika hanya menyalatkan saja ia mendapatkan satu qirath, sementara jika ikut dari mulai dishalatkan hingga dikuburkan ia mendapat dua qirath. Lalu jika ia hanya ikut menguburkan tanpa ikut menyalatkan berarti hanya mendapatkan pahala amal kebaikan sesuai dengan niatnya.

Apakah kita tidak sangat menyesal setelah mendengar hadits dari Abu Hurairah radliyallahu anhu tersebut?
Sebab kita tahu akan faidah mengantarkan jenazah dan selama ini mungkin kita jarang mengikuti penguburan jenazah seorang muslim lantaran suatu keperluan yang lainnya.

Dari Jarir bin Hazim berkata, Aku pernah mendengar Nafi berkata, Ibnu Umar radliyallahu anhuma pernah bercerita bahwasanya Abu Hurairah radliyallahu anhu berkata,

“Barangsiapa mengikuti jenazah maka ia akan mendapat pahala satu qirath”. Ibnu Umar berkata, “Abu Hurairah telah banyak menyampaikan hadits Nabi Shallallahu alaihi wa sallam kepada kita”. Lalu Aisyah radliyallahu anha membenarkan (ucapan) Abu Hurairah, dan ia berkata, “Aku pernah mendengar Rosulullah mengucapkannya”. Maka Ibnu Umar radliyallahu anhuma berkata, “Sungguh-sungguh kami telah mengabaikan banyak qirath”. [Telah mengeluarkan atsar ini al-Bukhoriy: 1323, 1324, Muslim: 945 (56) dan Ahmad: II/ 2-3, 387].

Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah,

1). "Sepatutnya seorang muslim itu untuk mengikuti jenazah saudaranya yang muslim dan menghadiri pemakamannya dalam keadaan beriman dan mengharapkan balasan (dari Allah ta’ala semata).

2). Mengikuti jenazah itu terbagi dua tingkatan yaitu,

a). Mengikutinya dari sisi keluarganya sampai menyolatkannya.

b). Mengikutinya dari sisi keluarganya sampai selesai menguburkannya.

Kedua kondisi tersebut pernah dilakukan oleh Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam. Namun tingkatan yang kedua lebih utama secara zhahir dari beberapa (ungkapan) hadits. Maka siapapun yang melakukannya hal tersebut ia akan mendapatkan pahala sebanya dua qirath".

MasyaAllah apakah akan kita sia siakan amalan yang ganjaran sangat besar ini? Mulai saat ini mari kita ikut menyalatkan dan mengantarkan jenazah, jika ada tetangga yang kesusahan (meninggal dunia).

Pesan terahkhir untuk kita semua adalah orang mukmin yang paling cerdas adalah orang yang paling banyak mengingat kematian dan yang paling baik persiapannya untuk kehidupan setelah mati. 

Silahkan bagikan sebanyak banyaknya agar kita juga memanen pahala atas orang yang melakukan kebaikan dalam mengurus jenazah ini.Karena ada suatu hadist menyebutkan dengan jelas.

Dari Abu Mas’ud Uqbah bin Amer Al Anshari AlBadri RA, Rasulullah SAW bersabda “Barang siapa menunjukkan kepada kebaikan maka baginya bagian pahala orang yang melaksanakannya”(HR Muslim).
Semoga kita termasuk orang-orang yang dirahmati Allah. Amiin..Amiin Ya Rabbal Alamiin...


Rabu, 20 September 2017

3 Amalan yang Disukai Allah Saat Malam Jumat


Malam Jumat menjadi malam yang istimewa bagi kaum muslimin. Hal ini disebabkan oleh keutamaan hari Jumat dibanding hari lainnya. Jumat bisa disebut hari raya mingguan umat Islam. Sebagian kaum muslimin bahkan meliburkan diri dari kegiatan duniawi yang dia jalani. Mereka ingin memfokuskan diri untuk beribadah dan menghamba pada Allah SWT.Simak amalan yang dilakukan pada malam Jumat agar ibadah kita makin pol.

1.  Memperbanyak shalawat
Amalan yang sebaiknya dilakukan pada malam Jumat ialah memperbanyak shalawat kepada Nabi Muhammad SAW.

“Diriwayatkan dari Aws bin Aws, Rasulullah SAW bersabda: Sesungguhnya hari yang paling mulia bagi kalian adalah hari Jumat. Pada hari itu Nabi Adam AS diciptakan, di hari itu ditiupkan ruh, dan pada hari itu dilaksanakan siksaan. Karena itu maka perbanyaklah membaca shalawat kepadaku. Sebab shalawat yang kamu baca pada hari itu akan didatangkan kepadaku. 

Lalu salah seorang sahabat bertanya : ‘Wahai Rasulullah bagaimana mungkin shalawat yang kami baca itu bisa dihadapkan kepadamu, padahal engkau telah hancur dimakan bumi?’ Rasulullah SAW menjawab : ‘Sesungguhnya Allah ’Azza wa Jalla mengharamkan bumi untuk memakan jasad para Nabi-Nya.” (HR Ibnu Majah, 1075)

Dilansir dari republika (dot)co(dot)id, berbagai manfaat bisa kita dapatkan dari membaca shalawat kepada Nabi, di antaranya:

Mempermudah doa diijabah

"Setiap doa akan terhalang (untuk dikabulkan) hingga dibacakan shalawat kepada Muhammad dan keluarganya." (HR Thabrani).

Dijanjikan pahala berlipat.

Rasulullah SAW bersabda, "Barang siapa yang bershalawat kepadaku sekali, maka Allah akan bershalawat untuknya sepuluh kali." (HR Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, dan Nasa’i).

Diangkat derajatnya
Pada suatu pagi Rasulullah tampak bahagia seperti terlihat dari kecerahan wajahnya. Para sahabat bertanya, "Ya Rasulullah, pagi ini Engkau tampak bahagia seperti terlihat dari kecerahan wajahmu." Beliau bersabda, "Memang benar. 

Semalam aku ditemui oleh seorang utusan Tuhanku Yang Mahaagung. Dia berkata, 'Barang siapa di antara umatmu yang bershalawat kepadamu sekali, maka Allah menuliskan baginya sepuluh kebaikan, menghapuskan dari dirinya sepuluh keburukan, meninggikannya sebanyak sepuluh derajat, dan mengembalikan kepadanya sepuluh derajat pula'." (HR Ahmad).

Dikumpulkan di surga bersama Nabi

Rasulullah SAW bersabda, "Manusia yang paling berhak bersamaku pada hari kiamat ialah yang paling banyak membaca shalawat kepadaku." (HR Tirmidzi).

Mendapatkan syafaat Nabi

Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya orang yang bershalawat kepadaku sekali, maka Allah akan bershalawat untuknya sepuluh kali. Lalu, mintalah kepada Allah wasilah untukku karena wasilah adalah sebuat tempat di surga yang tidak akan dikaruniakan, melainkan kepada salah satu hamba Allah. Dan, aku berharap bahwa akulah hamba tersebut. Barang siapa memohon untukku wasilah, maka ia akan meraih syafaat." (HR Muslim).

2.  Membaca Surat Al-Kahfi
Seperti yang kita ketahui bersama, membaca surat Al-Kahfi merupakan salah satu amalan yang sunnah dilakukan pada malam dan hari Jumat. Jika kita membaca surat ini, banyak manfaat yang akan kita dapat, di antaranya :

"Barangsiapa membaca surat al-Kahfi pada malam Jum’at, maka dipancarkan cahaya untuknya sejauh antara dirinya dia dan Baitul 'atiq." (HR Al-Hakim) (Dilansir dari akhlakmuslim(dot)com)

“Barang siapa membaca Surah Al Kahfi pada hari Jum’at, maka Dajjal tidak bisa memudharatkannya,” (HR-Dailami).

“Siapa yang membaca dari Surah Al-Kahfi, maka jadilah baginya cahaya dari kepala hingga kakinya dan siapa yang membaca keseluruhannya, maka jadilah baginya cahaya antara langit dan bumi,” (HR Ahmad)

3.  Memperbanyak Doa
Khusus di hari Jumat, Allah memberi waktu yang mustajab untuk berdoa. Karena waktunya dirahasiakan, maka kita disarankan untuk memperbanyak doa sepanjang malam dan selama hari Jumat. Siapa yang tahu jika doa kita yang kesekian ini akan diijabah oleh Allah bukan?

Masya Allah, begitu mudahnya Allah memberikan pahala kepada hamba-Nya yang mau berusaha. Semoga kita dikategorikan hamba-Nya yang beriman dan bisa berkumpul bersama di akhirat nanti. Aamiin

Rabu, 13 September 2017

Ini Amalan Untuk Wanita Yang Pahalanya Setara Syahid Di Jalan Allah

Ini Amalan Untuk Wanita Yang Pahalanya Setara Syahid Di Jalan Allah

Sebagai seorang yang beragama Islam, Syahid dijalan Allah merupakan sebuah cita - cita yang di impikan, tidak terkecuali untuk para muslimah. Pada Agama Islam tidak dibeda - bedakan derajat antara seorang laki - laki dan perempuan, keduanya mempunyai posisi yang sama dihadapan Allah, yang membedakan tidak lain hanyalah hati dan juga amal perbuatan saja.

Allah SWT senantiasa memberikan kesempatan yang sama pada setiap hambaNya untuk terus berlomba - lomba pada kebaikan, akan tetapi sudah menjadi Sunnatullah pada umumnya wanita diciptakan tidak setangguh dan sekuat seorang lelaki, terlebih lagi wanita akan mengalami periode menstruasi, tentu saja dengan begitu wanita tidak akan bisa penuh dalam menjalankan sholat lima waktu dan juga puasa ramadhan.

 “Barangsiapa yang mengerjakan amal-amal saleh, baik laki-laki maupun wanita sedang ia orang yang beriman, maka mereka itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikitpun.” (QS. An Nisa : 124)

Lantas Bagaimana Cara Seorang Wanita Untuk Masuk Surga ?

Rasulullah Shallallahu `alaihi Wa Sallam bersabda :

 Apabila seorang wanita (istri) itu telah melakukan shalat lima waktu, puasa bulan Ramadhan, menjaga harga dirinya dan mentaati perintah suaminya, maka ia diundang di akhirat supaya masuk surga berdasarkan pintunya mana yang ia suka (sesuai pilihannya).” (HR. Ahmad, Ibnu Hibban dan Thabrani)

Sungguh sangatlah beruntung untuk para wanita yang beriman, Allah sudah menjanjikan mereka untuk bisa masuk Surga berdasarkan pintu manapun yang mereka sukai. Bahkan untuk para istri jika sang suami ridha terhadapnya, maka Insya Allah surga lah sebaik - baiknya tempat kembalinya.

“Siapapun wanita yang meninggal dan suaminya ridha terhadapnya, maka dia akan masuk surga.“ (HR. Tirmidzi).

Pahala Seperti Para Syahada

 Diriwayatkan dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu `alaihi Wa Sallam pernah bersabda: “Dari mulai hamil, melahirkan, dan menyapih, seorang perempuan akan mendapatkan pahala layaknya pejuang di jalan Allah. Jika ia meninggal dalam rentang masa tersebut, ia mendapat pahala syahid di jalan Allah.” (HR. Ibnu Jauzi)

“Mati syahid ada 7 selain yang terbunuh di jalan Allah: Orang yang mati karena thaun, syahid. Orang yang mati tenggelam, syahid. Orang yang mati karena ada luka parah di dalam perutnya, syahid. Orang yang mati sakit perut, syahid. Orang yang mati terbakar, syahid. Orang yang mati karena tertimpa benda keras, syahid. Dan wanita yang mati, sementara ada janin dalam kandungannya.” (HR. Abu Daud)

Dari Ubadah bin Shamit radhiyallahu'anhu, bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah juga menjenguk dirinya kala Ubadah sedang sakit.

Pada sela - sela itu, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bertanya, "Tahukah kalian, siapa orang yang mati syahid di kalangan umatku ?"

Ubadah menjawab : 'Ya Rasulullah, merekalah orang yang bersabar yang selalu mengharap pahala dan musibahnya."

 Berarti orang yang mati syahid di kalangan umatku cuma sedikit. Orang yang mati berjihad di jalan Allah, syahid, orang yang mati karena Tha’un, syahid. Orang yang mati tenggelam, syahid. Orang yang mati karena sakit perut, syahid. Dan wanita yang mati karena nifas, dia akan ditarik oleh anaknya menuju surga dengan tali pusarnya. (HR. Ahmad)

Pengorbanan yang sudah dilakukan oleh seorang wanita dikala proses kehamilan, nifas, melahirkan dan juga menyusui merupakan pengorbanan berat yang ia tanggung seorang diri selama bertahun - tahun. Allah menyamakan hal itu seperti seorang pejuang yang sedang menghadapi bahaya di Jalan Allah dan jika mereka meninggal maka akan mendapatkan pahala syahid di jalan Allah.

Semoga kita selalu diberikan anugerah untuk bisa mendapatkan cita - cita setinggi langit kita untuk bisa syahid di Jalan Allah, dan juga dikumpulak bersama dengan para syuhada di Surga.

Sumber http://www.hanyatauaja.com/