Baca Juga
Kesibukan beraktivitas maupun ketiadaan pengetahuan kerap menjadi alasan orang meninggalkan amalan ini. Padahal, jika dijalankan genap dari awal sampai akhir, seseorang diganjar pahala setara dua gunung emas.
Amalan yang dimaksud adalah mengurus jenazah. Prosesnya dijalankan muai dari memandikan, mengkhafani, menyolatkan, hingga mengantarkan ke kuburan dan memakamkan mayit tersebut.
Hal ini telah disebutkan secara jelas dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Bukhari, Muslim, Abu Dawud, An Nasai, At Turmudzi, Ibnu Majah, Ath Thayalisiy, dan Ahmad, dari Abu Hurairah radliyallahu 'anhu, dari Rasulullah Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam,
Barangsiapa menyaksikan jenazah (dari rumahnya). (Di dalam satu riwayat), " Barangsiapa yang mengiringi jenazah seorang muslim dengan penuh keimanan dan mengharapkan pahala sampai disholatkan maka ia akan mendapatkan pahala satu qirath. Dan barangsiapa yang menyaksikannya sampai dikuburkan, (di dalam riwayat yang lain, sampai selesai semua kepengurusannya) maka ia mendapatkan pahala dua qirath" .
Ditanyakan, " Apakah pahala dua qirath itu?" . Beliau menjawab, " Yaitu sebesar dua gunung yang besar" . (Di dalam riwayat yang lain), " Setiap satu qirath ukurannya itu sebesar gunung Uhud" .
Hadis tersebut disebutkan dalam kitab Al Ihkam fi Syarh Umdatul Ahkam, menjelaskan keutamaan mengurus jenazah.
Yang menjadi pertanyaan, bagaimana jika hanya melakukan sholat tanpa mengantarnya dari rumah duka menuju pemakaman?
Sebagian ulama berpendapat pahala satu qirath didapat bagi mereka yang menyolatkan hingga mengantarkan jenazah ke kuburan. Tetapi, menurut Ibn Hajar, mengantar dari rumah hanya sarana sehingga orang yang hanya ikut sholat jenazah tanpa mengantar dari awal tetap mendapatkan satu qirath.
Sebaliknya, jika seseorang hanya ikut mengantar tanpa ikut shalat ia tidak mendapatkan satu qirath; tetapi tetap berpeluang mendapatkan pahala kebaikan.
Selanjutnya pahala dua qirath hanya didapat oleh mereka yang ikut shalat jenazah lalu mengantarnya hingga dikubur.
Adapun yang hanya menyaksikan penguburan tanpa ikut shalat tidak mendapatkan satu qirath, apalagi dua qirath. Sebab pahala dua qirath yang disebutkan oleh Rasul saw terkait dengan aktivitas menguburkan setelah menyalatkan; bukan hanya ikut menguburkan.
Kesimpulannya, bahwa mengantar jenazah hingga ikut menyalatkan dan menguburkan adalah perbuatan yang mendatangkan pahala besar sehingga diibaratkan mendapatkan pahala sebesar dua gunung.
Karena itu seorang muslim hendaknya ikut serta menyalatkan dan menguburkan agar mendapatkan pahala yang sempurna.
Jika hanya menyalatkan saja ia mendapatkan satu qirath, sementara jika ikut dari mulai dishalatkan hingga dikuburkan ia mendapat dua qirath. Lalu jika ia hanya ikut menguburkan tanpa ikut menyalatkan berarti hanya mendapatkan pahala amal kebaikan sesuai dengan niatnya.
Apakah kita tidak sangat menyesal setelah mendengar hadits dari Abu Hurairah radliyallahu anhu tersebut?
Sebab kita tahu akan faidah mengantarkan jenazah dan selama ini mungkin kita jarang mengikuti penguburan jenazah seorang muslim lantaran suatu keperluan yang lainnya.
Dari Jarir bin Hazim berkata, Aku pernah mendengar Nafi berkata, Ibnu Umar radliyallahu anhuma pernah bercerita bahwasanya Abu Hurairah radliyallahu anhu berkata,
“Barangsiapa mengikuti jenazah maka ia akan mendapat pahala satu qirath”. Ibnu Umar berkata, “Abu Hurairah telah banyak menyampaikan hadits Nabi Shallallahu alaihi wa sallam kepada kita”. Lalu Aisyah radliyallahu anha membenarkan (ucapan) Abu Hurairah, dan ia berkata, “Aku pernah mendengar Rosulullah mengucapkannya”. Maka Ibnu Umar radliyallahu anhuma berkata, “Sungguh-sungguh kami telah mengabaikan banyak qirath”. [Telah mengeluarkan atsar ini al-Bukhoriy: 1323, 1324, Muslim: 945 (56) dan Ahmad: II/ 2-3, 387].
Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah,
1). "Sepatutnya seorang muslim itu untuk mengikuti jenazah saudaranya yang muslim dan menghadiri pemakamannya dalam keadaan beriman dan mengharapkan balasan (dari Allah ta’ala semata).
2). Mengikuti jenazah itu terbagi dua tingkatan yaitu,
a). Mengikutinya dari sisi keluarganya sampai menyolatkannya.
b). Mengikutinya dari sisi keluarganya sampai selesai menguburkannya.
Kedua kondisi tersebut pernah dilakukan oleh Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam. Namun tingkatan yang kedua lebih utama secara zhahir dari beberapa (ungkapan) hadits. Maka siapapun yang melakukannya hal tersebut ia akan mendapatkan pahala sebanya dua qirath".
MasyaAllah apakah akan kita sia siakan amalan yang ganjaran sangat besar ini? Mulai saat ini mari kita ikut menyalatkan dan mengantarkan jenazah, jika ada tetangga yang kesusahan (meninggal dunia).
Pesan terahkhir untuk kita semua adalah orang mukmin yang paling cerdas adalah orang yang paling banyak mengingat kematian dan yang paling baik persiapannya untuk kehidupan setelah mati.
Silahkan bagikan sebanyak banyaknya agar kita juga memanen pahala atas orang yang melakukan kebaikan dalam mengurus jenazah ini.Karena ada suatu hadist menyebutkan dengan jelas.
Dari Abu Mas’ud Uqbah bin Amer Al Anshari AlBadri RA, Rasulullah SAW bersabda “Barang siapa menunjukkan kepada kebaikan maka baginya bagian pahala orang yang melaksanakannya”(HR Muslim).
Semoga kita termasuk orang-orang yang dirahmati Allah. Amiin..Amiin Ya Rabbal Alamiin...
Imbalan 2 Gunung Emas, Amalan ini Mudah Dilakukan Tapi Sayangnya, Amalan ini Kerap Diabaikan
4/
5
Oleh
Liputan Berita
