Tampilkan postingan dengan label Rasulullah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rasulullah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 19 September 2017

Masjid Ini Jadi Tempat Perjanjian Rasulullah dan Bangsa Jin


Umat Islam tentu menyimpan kerinduan terhadap Nabi Muhammad SAW. Selain mengikuti ajarannya, banyak muslim mendatangi lokasi-lokasi yang dahulunya pernah dikunjungi Rasul untuk mengurangi kerinduan tersebut.

Selain Kabbah di Mekah, serta Masjid Nabawi di Madinah, satu lokasi ini juga menjadi tempat yang patut dikunjungi jika teringat akan Nabi. Adalah Masjid Jin yang terletak di salah satu kota suci Makkah Almukarromah.

Konon, masjid ini menjadi saksi bisu ketika Nabi Muhammad SAW melakukan perjanjian dengan bangsa jin. Selain itu, masjid tersebut juga menjadi tempat turunnya salah satu wahyu Allah yakni Surat Al Jin. Bagaimana lengkapnya? Berikut ulasannya.

Masjid jin menjadi salah satu masjid bersejarah selain Masjid Nabawi dan Masjid Al Aqsa di Palestina. Bangunannya memang terlihat biasa layaknya masjid pada umumnya. Tidak ada arsitektur yang spesial dari kondisi masjid ini. Posisinya dipinggir jalan raya serta diapit oleh gedung-gedung bertingkat.

Namun Masjid Jin menjadi sangat bersejarah karena di sana Rasulullah SAW melakukan pernjanjian dengan bangsa jin. Mereka mengucapkan dua kalimat syahadat dan berjanji akan mengikuti ajaran Nabi.

Berdasarkan catatan sejarah, Rasulullah SAW dan para sahabat sedang melaksanakan shalat Subuh di Masjid tersebut. Kemudian, Rasul membacakan  surah ar-Rahman [55] ayat 1-78. Dalam surah ar-Rahman ini terdapat beberapa ayat yang berbunyi, "Maka, nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?”
Ternyata, bacaan tersebut tidak sengaja di dengar oleh segerombolan jin yang melewati masjid untuk melakukan perjalanan Tihamah.

Para jin lantas menjawab, ’’Wahai Tuhan kami, sesungguhnya kami tidak mendustakan nikmat-Mu sedikit pun. Segala puji hanya bagi-Mu yang telah memberikan nikmat lahir dan batin kepada kami.” Ibnu Mas’ud mengaku, pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda, "Aku didatangi juru dakwah dari kalangan jin. Lalu, kami pergi bersamanya dan aku bacakan Alquran kepada mereka.”

Jin kemudian mulai berdialog dengan Rasulullah SAW. Saat itulah, mereka menyatakan keimanannya. Mereka kemudian menyampaikan hal itu kepada kaum jin yang lain.  Saat itu juga Allah langsung menurunkan surat Al jin.

Para jin lalu berbaiat dengan Rasul SAW. Peristiwa itu juga diabadikan dalam Alquran surah al-Ahqaf [46]: 29-32.

“Dan ingatlah ketika Kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan Al-Quran. Maka tatkala  mereka menghadiri pembacaan (nya) lalu mereka berkata: Diamlah kamu untuk mendengarkannya. Ketika pembacaan selesai, mereka kembali kepada kaumnya untuk memberi peringatan,” (29)

“Mereka berkata: Hai kaum kami, seseungguhnya kami telah mendengarkan kitab (Al-Quran) yang telah diturunkan sesudah Musa yang membenarkan kitab-kitab sebelumnya lagi memimpin kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus,” (30)

“Hai kaum kami, terimalah (seruan) orang yang menyeru kepada Allah dan berimanlah kepada-Nya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa kamu dan melepaskan kamu dari azab yang pedih,” (31)

“Dan orang-orang yang tidak menerima (seruan) orang yang menyeru kepada Allah maka dia tidak akan melepaskan diri dari azab Allah di muka bumi dan tidak ada baginya pelindung selain Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata,” (32)

Masjid Al-Jin sering juga dikenal denganama Masjid al-Bai’ah. Letaknya sekitar 1,5 km di sebelah utara Masjidil Haram, dengan luasnya sekitar 20x10 meter. 

Selasa, 29 Agustus 2017

Kisah Rasulullah Beri Penghormatan Bikin Sahabat Menangis


Semakin tinggi derajat seseorang, semakin pula ia dihormati. Tapi Rasulullah punya nilai lebih. Sebagai manusia yang maksum dan pembawa risalah suci, sudah sepantasnya Baginda Nabi Muhamad shallallâhu ‘alaihi wasallam mendapat pemuliaan yang tinggi dari sahabat-sahabatnya. Namun nyatanya, justru Rasulullah-lah yang terdepan meneladankan sikap itu kepada mereka. Beliau yang enggan dihormati tampil sebagai sosok sangat menghormati orang lain.

Tentang hal ini ada sebuah kisah yang diriwayatkan Imam ath-Thabrani. Suatu kali Rasulullah menggelar sebuah pertemuan dengan para sahabatnya. Yang hadir cukup ramai, sehingga majelis itu terlihat sesak.

Di tengah padatnya peserta forum, Jarir bin Abdullah datang terlambat. Tentu ia tak mendapat jatah tempat duduk. Rasulullah yang mengetahui kondisi Jarir segera menggelar jubahnya lalu menyuruh Jabir duduk di atasnya.

Hati Jarir terenyuh menyaksikan akhlak luar biasa Rasulullah. Alih-laih mau duduk di atas pakaian Nabi, ia malah mengambil pakaian tersebut, mengangkatnya, lalu menciumnya sambil menangis tersedu-sedu. Batin Jarir, bisa-bisanya Rasulullah begitu menghormati dirinya di depan para sahabat yang lain padahal dia telat?

“Saya tak akan duduk di atas pakaianmu (ya Rasulullah). Semoga Allah memuliakanmu sebagaimana engkau memuliakan diriku,” kata Jarir yang haru campur kagum dengan sifat Rasulullah.

Rasulullah adalah sosok yang tak gandrung dengan penghormatan. Beliau lebih sering melayani ketimbang dilayani. Nabi menjahit pakaiannya sendiri yang bolong. Menyelesaikan keperluannya tanpa merepotkan orang lain. Pribadinya yang tawaduk juga enggan bila tangannya dicium, meski bukan berarti mengharamkannya. Demikianlah Rasulullah, puncak kemuliaannya tampil sempurna justru dalam kerendahhatiannya. (Mahbib)