Tampilkan postingan dengan label Khalifah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Khalifah. Tampilkan semua postingan

Jumat, 10 November 2017

Jangan Kaget! Inilah Kekayaan Umar bin Abdul Aziz setelah Menjabat Khalifah


Sebelum menjadi Khalifah, laki-laki ini terkenal sebagai pribadi yang kaya raya. Suka berlama-lama dalam memoles diri di depan cermin, banyak memberikan harta dan perhiasan kepada istrinya, bajunya pun berasal dari kain halus yang mahal harganya.

Namun, sesaat setelah diangkat menjadi pemimpin kaum Muslimin sebagai Khalifah kedelapan Dinasti Bani Umayah, kehidupan laki-laki ini berbalik seratus delapan puluh derajat, tak ubahnya langit dan bumi.

Kepada istrinya, ia memberikan opsi. Sebuah pilihan yang amat sukar bagi seorang wanita shalihah yang menyayangi suaminya karena Allah Ta’ala. Laki-laki yang dijuluki sebagai Khalifah kelima kaum Muslimin ini mempersilakan istrinya untuk mengembalikan seluruh emas dan perhiasan yang dia berikan untuk dijadikan sebagai kas negara, atau diceraikan jika bersikukuh dengan segala jenis kekayaan itu.

Lantaran imannya yang tertancap kuat di dalam sanubari, sang istri memilih mengembalikan sebagian besar harta halal yang dia miliki sebagai kas negara, lalu menjalani hidup sederhana mendampingi sang suami, menegakkan kalimat Allah Ta’ala melalui jalur pemerintahan.

Pun dengan seluruh pakaian sang Khalifah. Semuanya diganti. Dari bahan paling halus menjadi kain paling kasar. Hingga suatu ketika, sang Khalifah menolak baju pemberian kaum Muslimin lantaran bahannya terlalu halus. Padahal, sebelum memimpin kaum Muslimin, bahan jenis itu dia bilang paling kasar.

Abu Ja’far al-Manshur, sebagaimana dikutip oleh Hepi Andi Bastoni dalam Majalah Al-Intima’ 69, bertanya kepada Abdul Aziz, anak dari laki-laki ini. “Berapa kekayaan ayahmu saat mulai menjabat sebagai Pemimpin kaum Muslimin?”

“Empat puluh ribu dinar,” jawab si anak, lugas.

“Lalu,” lanjut Abu Ja’far sampaikan soalan kedua, “berapa kekayaan ayahmu saat meninggal dunia?”

“Empat ratus dinar. Itu pun,” terang sang anak yang menyadarkan ayahnya sejak hari pertama menjabat akan ngerinya hisab di akhirat, “jika belm berkurang.”

La haula wa la quwwata illa billah.

Kisah nyata semacam ini hendaknya membuat kita iri. Ada begitu banyak capaian orang-orang terdahulu yang belum bisa ditandingi. Ironisnya, saat disampaikan kisah sejenis ini, banyak sekali kaum Muslimin yang pesimis dan mengganggapnya sebagai kisah belaka, bukan untuk diteladani.

Tidakkah kita kaget membaca riwayat ini? Saat pejabat dan pemimpin kita di berbagai levelnya bertambah kekayaan setelah menjabat berpuluh bahkan ratusan kali lipat, Khalifah kebanggan kaum Muslimin ini, kekayaannya justru berkurang. Hanya tersisa sepuluh persen dari harta yang dimiliki sebelum menjabat.

Semoga Allah Ta’ala meridhai Umar bin Abdul Aziz Radhiyallahu ‘anhu.
Wallahu a’lam. [Pirman/BersamaDakwah]

Kamis, 13 April 2017

Subhanallah!!! Inilah Isi Pidato Politik Abu Bakar Setelah di Angkat Menjadi Khalifah

Sahabat dunia islam, Sehari setelah dibaiat kaum muslimin sebagai khalifah di Saqifah Bani Saidah, Abu Bakar Ash-Shiddiq berjalan pelan menuju mimbar Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam di Masjid Nabawi dengan perasaan gugup.

Pidato Politik Abu Bakar Setelah di Angkat Menjadi Khalifah, Khalifah pertama itu menghadap ke arah kaum muslimin. Inilah kali pertama dia menyampaikan pidato politik setelah terputusnya wahyu dari langit dan jasad Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam yang suci telah berkalang tanah.

Berikut ini adalah petikan pidato Abu Bakar yang bersejarah itu:

“Amma badu, wahai sekalian manusia, sesungguhnya aku telah diangkat sebagai pemimpin kalian meski aku bukan yang terbaik di antara kalian. Jika aku berbuat baik, dukunglah saya. Sebaliknya jika aku berbuat salah, luruskanlah saya.

Kejujuran itu merupakan amanah, sedangkan dusta itu merupakan pengkhianatan. Kaum yang lemah menempati posisi yang kuat di sisiku hingga aku dapat mengembalikan padanya haknya dengan izin Allah.Sedangkan, kaum yang kuat menempati posisi yang lemah di sisiku hingga aku dapat mengambil darinya hak orang lain dengan izin Allah.

Jika suatu kaum meninggalkan perkara jihad di jalan Allah, mereka akan ditimpakan kehinaan oleh Allah.Jika kemaksiatan telah meluas di tengah-tengah suatu kaum, Allah akan menimpakan bala kepada mereka secara menyeluruh.

Taatlah kepadaku selama aku taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Jika aku bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya, maka kalian tidak wajib taat kepadaku. Bangunlah untuk melaksanakan shalat, semoga Allah merahmati kalian.”

Dengan pidato politiknya itu Abu Bakar ingin menegaskan kepada setiap orang bahwa jabatan itu merupakan sebuah kerugian bukan keuntungan, sebuah tanggung jawab bukan penghormatan, sebuah pengorbanan bukan penghargaan, dan sebuah kewajiban bukan kesewenang-wenangan.

Abu Bakar pun ingin menghilangkan kesan di tengah masyarakat bahwa seorang pemimpin itu harus dihormati secara berlebihan. Justru, seorang pemimpin itu diangkat untuk memberikan pelayanan dalam agama Allah dan risalah-Nya.

Allah Taala mengangkatnya sebagai pemimpin untuk melayani rakyatnya bukan sebaliknya rakyatnya yang melayani dia.

Dengan demikian, Abu Bakar telah meletakkan batasan tanggung jawabnya termasuk batasan kewajiban kaum muslimin.Menurutnya, umat harus berperan aktif dalam persoalan kepemimpinan. Mereka harus menjadi mitra pemerhati dan bukan pengikut yang tak mau tahu.

Setelah itu, kaum muslimin menetapkan gaji Abu Bakar sebesar dua ribu dirham setahun.

Abu Bakar berkata, “Tambahlah sedikit, karena aku memiliki keluarga. Kalian telah menyibukkan aku dari perniagaan.”Kaum muslimin pun menambahkan lima ratus dirham untuk Abu Bakar.